Jakarta 1st Probation Time

Halo semua. Senang rasanya bisa meluangkan sedikit waktu untuk menulis blog kembali. Di awal pembuatan WordPress ini, saya memang sempat berniat membuat keistimewaan pada blog ini, yaitu sebagian bercerita mengenai kisah atau peristiwa yang saya alami dan bisa saya bagikan secara publik sementara sebagian laginya adalah mengenai informasi – informasi yang mungkin bisa membantu anda para penggunjung blog ini baik dalam bentuk How-To, Walkthrough, maupun informasi – informasi yang saya miliki dari pengalaman yang telah saya alami. Namun impian hanya tinggal impian ketika kita tidak memiliki tekad yang cukup kuat maupun manajemen waktu yang baik. Disinilah saya akan memulai kisah saya kali ini.

screen-shot-2016-10-09-at-2-37-32-am
Gambaran Pekerjaan saya di Jakarta

Saya akan mengawali kisah kali ini dari sebuah rasa syukur. Syukur karena tak terasa sudah genap 3 bulan saya menjalani kehidupan di Jakarta. Yup, kini sekarang saya menetap di Jakarta untuk melanjutkan karir saya di bidang lain selain jalur pendidikan formal yang telah saya tekuni selama 5 tahun terakhir (kalau berdasarkan SK) atau 6 tahun terakhir (jika berdasarkan apa yang saya jalani). Dan kepindahan ini otomatis membawa banyak perubahan baru yang boleh dibilang berbeda hampir 180 derajat dibandingkan kehidupan di kampung halaman tercinta, Bandung. Kita ambil contoh dari jam masuk kerja, jika di Bandung saya harus masuk pukul 06.30 setiap senin (Untuk persiapan Upacara bendera) ataupun jam – jam lain sesuai dengan kontrak Jam Mata Pelajaran, maka kini saya harus berada di kantor mulai pukul 09.00 s/d 18.00. Yang mana bagi anda para pembaca yang mungkin masih berstatus sebagai pelajar mungkin akan menjerit keras mengingat anda mulai pukul 06.30 ataupun 07.15 sudah harus berada di sekolah.

Namun tantangan terbesar hidup di Jakarta adalah mengubah kebiasaan dan keluar dari zona nyaman. Saya bisa menulis seperti ini karena berbeda dari sebelumnya saya mengajar di dalam sebuah kelas dengan murid – murid yang mayoritas berusia lebih muda dari saya, kini saya harus mengajar sebuah kelas / sebuah materi di outlet kepada mereka – mereka yang lebih senior maupun lebih junior dari saya. Dan dalam materi yang baru saja dipelajari yakni dunia Retail atau Selling. Sebuah dunia yang boleh dibilang asing dan bahkan pernah saya anggap sebagai dunia yang tidak akan saya sentuh namun kini harus saya jalani entah dengan rasa terpaksa ataupun dengan penuh rasa syukur. Disisi lain tantangan lainnya adalah seputar kebiasaan. Di bandung, saya terbiasa untuk mengendarai sepeda motor kemanapun saya pergi dan ini sudah berlangsung selama hampir 8 tahun terakhir. Bahkan seandainya sepeda motor tidak ada, saya masih memiliki sepeda kumbang yang telah menemani saya sejak kelas 1 SMP hingga 1 SMA. Intinya, saya terbiasa untuk keluar dari rumah dengan transportasi pribadi entah itu bermotor maupun tidak. Dan di Jakarta, semua kemudahan itu tidak tersedia. Memang Jakarta memiliki sistem transportasi yang lebih baik dibandingkan dengan Bandung baik dari sisi Busway maupun Kereta api local atau bahkan sistem transportasi online seperti UBER, Go-Jek maupun Grab. img_4693Namun tetap saja ada perbedaan yang mau tidak mau harus saya sesuaikan dan yang terutama adalah fakta bahwa jika dengan kendaraan sendiri, saya bisa mengatur kapan saya akan berangkat. Namun tidak demikian dengan transportasi umum, karena saya yang harus menyesuaikan dengan ketersediaan mereka termasuk transport online yang sudah saya tulis di atas. Disinilah satu dari sekian banyak challange yang saya rasakan di Jakarta.

Namun terlepas dari semua chalenge yang ada baik yang sudah saya sebutkan diatas maupun yang belum saya tuliskan, ada perasaan syukur yang harus di utarakan entah kepada Yang Maha Esa maupun kepada keadaan yang ada. Karena dengan tinggal sendiri di Jakarta banyak hal yang harus saya manage kembali. Saya harus memanage waktu dengan lebih baik untuk menyempatkan membereskan tempat kost yang tidak hanya berfungsi sebagai kamar tidur namun juga dapur mini maupun tempat cuci gerabah yang saya miliki. Saya juga harus mengatur kemana saya akan pergi saat weekend, karena kalau sering – sering pulang ke Bandung hanya demi menikmati adrenalin dari sepeda motor seperti yang biasa saya lakukan maka otomatis ada biaya lebih besar yang harus dikeluarkan. Saya juga harus memanage bagaimana jatah listrik yang hanya sekitar 60 – 70 kwh perbulannya bisa cukup untuk menjalani kehidupan selama satu bulan. Dan itu berarti setiap tahapan dan tantangan yang berhasil saya tuntaskan akan membantu saya menjalani kehidupan secara lebih baik.

Jika disimpulkan, bagaimana sih kehidupan di Jakarta maka saya akan memilih satu kata yakni Ujian. Inilah ujian yang harus dihadapi, keluar dari zona nyaman – keluar dari ketergantungan atas nyamannya rumah – keluar dari nyamannya almamater yang telah 9 tahun terakhir menjadi tempat paling indah di seluruh dunia. Dan saya yakin ketika ujian ini berhasil, maka akan ada hadiah besar yang menanti disana entah itu pengalaman memiliki kehidupan sendiri tanpa adanya kecerewetan orang lain, kemampuan memanage financial dan membedakan mana kebutuhan dengan keinginan maupun arti dari pertemanan itu sendiri mengingat Jakarta adalah kota yang keras dan disinilah kita bisa membedakan mana teman yang sekedar nama dan teman yang benar – benar seorang teman.

Maka sebelum kita berpisah, ini pesan yang bisa kamu ambil dari pengalaman yang saya coba sampaikan kepada anda sekalian. Jika kamu ingin merasakan bagaimana kemandirian itu sesungguhnya tanpa kabur dari rumah, maka pergilah merantau. Pergilah ! Keluar dari zona nyamanmu dan tantanglah dirimu sampai batas kemampuanmu sebelum terlambat.

img_0586

Karena dari mimpi menuju impian, dari angan – angan dan cita maka akan menjadi sebuah kenyataan seperti yang selalu Bung Karno katakan yakni, “Gantungkanlah cita – citamu setinggi bintang di langit. Sehingga saat kamu terjatuh, maka kamu terjatuh di pangkuan bintang – bintang.
img_3803

Ingatlah juga pepatah bangsa Tionghoa yang ada di sisi kiri  ini. Jangan sampai ketika kamu dewasa nanti, kamu menyesal akan apa yang belum kamu coba namun kamu tak lagi memiliki kesempatan, waktu maupun modal untuk mencoba merubah apa yang ingin kamu rubah.

Selamat malam dan selamat berpikir ! Salam hormat saya untuk anda para pengelana diluar sana!

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s