Kenang – kenangan di Kampung Gajah

Tak ada yang abadi
Tak ada yang abadi
Tak ada yang abadi
Tak ada yang abadi

Terlintas dalam benak di kepala barisan penggalan lirik lagu berjudul Tak Ada Yang Abadi dari group band Peterpan, ketika salah satu iklan postingan dari Group berita Detik.com  muncul pada layar iPhone XR yang saya pergunakan. Sebuah artikel berjudul Kampung Gajah di Jawa Barat, Tempat Wisata yang Kini Menyeramkan (Detik Travel).

Lama tak terdengar beritanya dan kini muncul dengan postingan seperti yang telah disebutkan diatas, menimbulkan kenangan akan beberapa peristiwa di masa lalu. Bagi saya dan mungkin teman – teman saya di Kampus dan juga teman – teman SMP, Kampung gajah telah menjelma menjadi tempat bermain di masa – masa awal keberadaannya.

IMG_3799
Dari kiri ke kanan : Panca, Pelle dan Domi. Photo 10 Januari 2011. Sumber : Dokumentasi Pribadi

Berdiri sejak 2010 lalu, saya pertama kali mengunjungi kampung gajah bersama dengan teman – teman baru yang saya kenali melalui mata kuliah Manajemen AK-F. Teman – teman tersebut adalah Panca Panggabean, Dominica Damina A. dan Felicia Djohan. Waktu itu jika tak salah adalah tanggal 10 Januari 2011 yang merupakan periode libur kuliah dari Semester Ganjil menuju Semester Genap. Acara / kegiatan jalan – jalan ini juga menjadi semacam acara kebersamaan selepas satu semester bekerja bersama – sama di kelas Manajemen.

Kali kedua (yang di-ingat dan ada dokumentasi photo-nya) kunjungan ke Kampung Gajah adalah ketika Chris William (teman sejak TK / SD) datang pulang ke Indonesia dari studi-nya di Amerika Serikat. Mengingat sudah cukup lama sejak perjumpaan kami sebelumnya, kali ini acara kumpul – kumpul di-ikuti oleh banyak teman – teman khususnya dari teman – teman di SMPK 5 BPK PENABUR Bandung.

Kezia Christianty - 122
Dari kiri ke kanan : Nael, Elvina, Kezia, Maureen, Jobel, Debo, Elan, Deffry, Epim, Chris, Ricky, Evander & Albert. Photo 28 Juli 2011. Sumber : Dokumentasi Pribadi.

Setiap kunjungan tentu memiliki kisah dan ceritanya sendiri. Seperti kunjungan pertama yang baru berlatih dengan kamera DSLR Canon EOS 1000D sehingga banyak sekali photo yang blur atau kurang cahaya karena bukaan diagframa yang terlalu kecil, ataupun seperti kunjungan kedua dimana perkembangan kampung gajah yang tadinya hanya ada beberapa spot permainan menjadi terus berkembang dan bertambah.

Well, balik lagi ke Kampung Gajah dan artikel dari Detik.com yang saya singgung di awal. Ada moment dimana kita di atas ada moment dimana kita jatuh tak bersisa. Kata – kata ini persis menggambarkan bagaimana kondisi Kampung Gajah saat ini. Awal mula-nya kita bisa masuk secara gratis, lalu seiring perkembangan mulai diberlakukan tiket masuk dengan harga yang lumayan untuk ukuran kantong saat itu hingga akhirnya dinyatakan pailit sebagaimana bisa kita baca pada artikel Detik Travel diatas.

Demikian pula dengan teman – teman sepermainan saya delapan tahun yang lalu. Dulu kami adalah sekelompok pemuda – pemudi yang baru saja memasuki dunia perkuliahan, namun kini kami telah menjelma menjadi sekelompok pekerja, wiraswasta, ibu rumah tangga, suami atau bahkan menjadi seorang musisi. Perjalanan waktu pada akhirnya menunjukan bahwa roda kehidupan selalu berputar. Ada kalanya kita diatas ada kalanya kita dibawah. Namun dimanapun kondisi kita saat ini, semoga persahabatan dan tali silahturahmi kita bisa tetap terjalin dan tidak berubah menjadi ‘angker’ seperti tempat wisata yang pernah menjadi tempat hiburan kita delapan tahun yang lalu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s