Selamat Jalan Papi Henri Darmawan

Apakah berduka sama dengan / identik dengan menangis ? Berkaca dari apa yang saya lihat beberapa minggu terakhir baik dalam kehidupan nyata maupun K-Drama, saya rasa jawabannya tidak. Ada banyak cara bagaimana seseorang mengekspresikan duka-nya. Kita seringkali melihat bahwa mayoritas orang menggambarkan / mengekspresikan dukanya dalam bentuk tangisan, beberapa dalam diam, bahkan ada pula yang tertawa. Bagaimana kita mengekspresikan perasaan duka kita merupakan cara kita untuk melepaskan perasaan yang terpendam di dalam hati kita yang terdalam. Dan menulis mengenai kenangan akan almarhum / almarhumah telah menjadi cara saya berduka sejak tahun 2005. (Lihat juga : https://michaelvarian.id/2015/05/24/barisan-memori-dengan-ibu-dra-jap-tjiu-siang/)

Perasaan berduka umumnya terjadi karena kita ditinggal oleh orang (dalam kasus tertentu juga bisa hewan) yang kita sayangi. Perasaan ini identik dengan perasaan yang tidak menyenangkan, namun tak jarang juga menjadi suatu perasaan yang melegakan. Mengapa saya bisa menyebut perasaan duka sebagai suatu hal yang melegakan? Karena tak jarang sekalipun kita bersedih karena merasa kehilangan, namun kita juga merasa lega karena kita percaya bahwa mereka kini telah berada di tempat yang jauh lebih baik dan terlepas dari segala beban yang menyertai-nya sepanjang hidup-nya.

Keyakinan akan rasa lepas dari segala beban baik itu sakit penyakit maupun mungkin beban lain inilah yang saya lihat selama perjalanan kebaktian penghiburan, kebaktian tutup peti hingga pelepasan dan krematorium dari Alm. Papi Henri Darmawan yang telah dipanggil menghadap Tuhan Yang Maha Esa pada hari Minggu, 21 Febuari 2021 yang lalu. Saya dan adik memang terbiasa memanggil kakak perempuan dan kakak ipar dari keluarga mami dengan panggilan papi dan mami, sehingga saya harus mengakui bahwa hingga tulisan ini dibuat saya masih merasakan ada satu hal yang hilang atas kepergian salah satu dari tiga orang papi diluar papi kandung. Namun dibalik perasaan kehilangan yang ada, kami percaya bahwa Tuhan jauh lebih sayang dan mengasihi Papi Henri dengan memanggilnya pulang ke Rumah-Nya yang indah di Surga.

Ijinkanlah artikel ini menjadi cara saya melepas kepergian Papi Henri, yang sepanjang 67 tahun perjalanan hidupnya banyak menghabiskan waktu pelayanan dan baktinya melalui pelayanan di Gereja dan Yayasan Pendidikan BPK PENABUR. Namun sekalipun beliau sibuk dengan pekerjaan dan pelayanan-nya, Papi Henri selalu menyempatkan waktu untuk berkumpul bersama keluarga besar pada malam tahun baru maupun ketika sanak family ada yang berada dalam kondisi berduka.

Alm. Papi Henri pada
Kebaktian Tutup Peti Kopo Liang 18 September 2019

Terimakasih untuk setiap moment yang pernah terjadi dalam interaksi kehidupan kita, entah ketika kecil bersama – sama ke Jakarta maupun setiap nasihat yang diberikan ketika kita berinteraksi.

Raganya kini tak lagi bersama dengan kami di dunia ini
Perjalanan ziarahnya di dunia selama 67 tahun kini telah berakhir
Namun kisahnya tak akan berakhir
Karena kebaikan dan teladannya tertulis dalam tinta buku kehidupan kami

Selamat jalan Papi Henri. Damai di keabadian bersama Ema dan Engkong, Kopo Liang dan Engku Lee.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s