Selamat Jalan Papi Henri Darmawan

Apakah berduka sama dengan / identik dengan menangis ? Berkaca dari apa yang saya lihat beberapa minggu terakhir baik dalam kehidupan nyata maupun K-Drama, saya rasa jawabannya tidak. Ada banyak cara bagaimana seseorang mengekspresikan duka-nya. Kita seringkali melihat bahwa mayoritas orang menggambarkan / mengekspresikan dukanya dalam bentuk tangisan, beberapa dalam diam, bahkan ada pula yang tertawa. Bagaimana kita mengekspresikan perasaan duka kita merupakan cara kita untuk melepaskan perasaan yang terpendam di dalam hati kita yang terdalam. Dan menulis mengenai kenangan akan almarhum / almarhumah telah menjadi cara saya berduka sejak tahun 2005. (Lihat juga : https://michaelvarian.id/2015/05/24/barisan-memori-dengan-ibu-dra-jap-tjiu-siang/)

Lanjutkan membaca “Selamat Jalan Papi Henri Darmawan”

#2020BestNine

2020 akan segera berakhir. Inilah tahun dimana kita melihat seseorang yang berdiam di dalam rumah justru bisa menjadi pahlawan dalam upaya mengalahkan pandemi CoVid-19.

2020 telah menjadi tahun dimana kita melihat bagaimana kemanusian masih ada melalui perjuangan para tenaga medis berjuang menaklukan pandemi di seluruh belahan bumi ini.

2020 juga menjadi tahun dimana tidak peduli apakah anda orang kaya atau miskin, apakah anda cakep atau kurang cakep menjadi korban dari pandemi.

Inilah tahun dimana akal sehat manusia diuji untuk menunjukan apakah dia mampu berpikir untuk kepentingan berasama atau hanya untuk dirinya sendiri.

Terimakasih 2020 untuk semua pelajaran hidup yang anda berikan. Sungguh tak pernah saya menyangka bahwa saya akan hidup dan merasakan pandemi penyakit yang selama ini hanya saya baca dalam berbagai buku sejarah abad pertengahan.

Selamat datang 2021. Semoga tahun ini kita bisa mengalahkan pandemi sebagaimana nenek moyang kita mengalahkan black death maupun flu spanyol di masa lampau.

30 Days Writing Challenge – Day 3 | 10 Songs that I love right now

I think everyone love to hear a music either during their relax time or even during their activity such as study ; work or even during their journey. Today, I want to share Top 10 of Songs that i loved to hear. Let’s begin.

  1. LiSA×Uru – Saikai

I always love LiSA song specially since i know her from the Angel Beats and then Sword Art Online. I first notice this song from her facebook page and begin to hear this song due to her lovely appearance (I honestly love her hair color and style that even make me suggest my sister to dye her hair color to it). But after hear it for the first time, i began to love the beat – the tempo and also her combination voice with Uru. Definitely my number one song for now.

Lanjutkan membaca “30 Days Writing Challenge – Day 3 | 10 Songs that I love right now”

Desember 2020 dan CoVid-19

Desember…

Bulan yang bagi saya dan keluarga identik dengan kumpul keluarga, menjenguk saudara yang di-tuakan entah di Bandung ; Banyumas ataupun di Solo.

Bulan yang identik dengan istirahat sejenak entah dari perjalanan proses pendidikan maupun penatnya pekerjaan

Bulan dimana keluarga berkumpul, berbagi kisah entah dalam jamuan makan bersama ataupun dalam perjalanan.

Bulan dimana kita mengingat perjalanan 1 tahun dan mensyukuri apa yang kita telah jalani serta bersiap memasuki tahun yang baru.

Photo ini adalah bagaimana kami berkumpul Desember 2019 yang lalu. Tahun ini mungkin akan sedikit berbeda mengingat adanya pandemi.

Semoga tahun mendatang dan tahun – tahun berikutnya, kami diberikan kesempatan untuk memperoleh Desember kami kembali. 🙏🏻

Hari – hari tanpamu
Berjalan begitu lambat

Sunyi layaknya malam di puncak gunung
Lambat layaknya air mengalir dari hulu ke hilir

Ketika mentari pagi datang
Terasa ada yang hampa dalam mengawali hari

Ketika raja siang bertakhta
Ada kebanggaan yang hilang dalam balai nya yang agung

Ketika rembulan bersiap bersinar
Ada pesona yang memudar dalam aura kecantikannya

Bersamaan dengan butiran pasir yang berjatuhan
Bersama itu pula keraguan memuncak

Mengisi dan memenuhi
Setiap relung kepercayaan yang pernah ada diantara kita

Hujan yang terkadang turun
Hanyalah mampu sedikit menjaga kelembapan alam

Entah kapan kegelapan ini akan berlalu
Membiarkan sayap – sayap ini terbang menemukanmu kembali

Tak ada yang mampu memprediksi
Tak ada yang mampu menjawab

Hanyalah barisan perpohonan
Yang kokoh mendengar setiap desiran angin bertiup

10 Oktober 2020 ; 28 tahun dan Hari Kesehatan Mental Dunia

10.10.2020 akan segera berakhir.

Tak terasa, hari ini usia saya memasuki 28 tahun. Tidak muda namun juga tidak terlalu tua untuk ukuran usia manusia (Pria) di Indonesia yang rata – rata berusia 69 tahun (Sumber : TribunNews).

Berbicara seputar 2020, tahun ini adalah tahun yang luarbiasa berat bagi sebagian besar dari kita. Pandemi CoVid-19 telah memukul perekonomian tidak hanya nasional namun juga global. Pandemi CoVid-19 juga memberikan kita batasan, untuk berinteraksi ; melepas penat ; atau bahkan sekedar bekumpul bersama dengan teman dan keluarga.

Bagi saya, 2020 adalah tahun penuh tanda tanya dan tanpa arah. Sebelum pandemi hadir, saya sedang berusaha untuk masuk ke dunia yang sepenuhnya baru ; tanpa bekal pendidikan formal & tanpa portofolio ; hanya bermodalkan internship 9 bulan plus kemauan belajar. Dan benar, tanpa CoVid sekalipun, sudah sulit rasanya memasuki dunia yang baru ini.

Pandemi menghadirkan tantangan bagi kita semua dan saya rasa saya merespond dengan sangat buruk dalam menghadapi tantangan ini. Satu – satunya lifeline dan ucapan syukur saya adalah bahwa saya masih memiliki dua orang tua yang tidak hanya mau membiayai namun juga menjadi teman hidup selama masa – masa PSBB. Suatu kesempatan yang saya lihat, saya dengar dan saya rasakan tidak bisa dimiliki oleh setiap orang.

Bicara pandemi dan 10.10, menjadi menarik bahwa ternyata setiap 10.10 dunia memperingati hari kesehatan mental. Menarik karena pandemi ini benar – benar menguji mental kita. Mulai dari rasa takut dan panik karena ketidakpastian seputar pandemi yang mendorong orang melakukan panic buying di awal pandemi, lalu masuk ke tahap menerima keadaan melalui adaptasi kehidupan, hingga berupaya menghadapi tantangan itu.

FaceTime dengan Three Musketeers
(Oktober 2020)

3 tahapan itu pasti pernah kita lalui dalam 10 bulan terakhir, dan kita bersyukur karena banyak orang disekitar kita yang membantu menjaga kesehatan mental kita dalam menghadapi pandemi ini. Terimakasih yang luar biasa untuk Randy dan Sheryl yang permainan rutin seminggu sekali menjadi penghiburan selama pandemi ini, terimakasih Braga dan Ferry yang rutin melakukan facetime, terimakasih Bang Dany – Adrian – Krisna dan Slamet yang selalu rutin menghadirkan pembahasan Bola (Salah satu wish tahun ini adalah semoga tim kita nggak makin terpuruk), terimakasih teman – teman leastric terutama bro william untuk sharing – sharing pengalaman codingnya dan untuk semua yang membantu menjaga kesehatan mental saya ini.

Kita tidak akan pernah tahu kapan pandemi akan berakhir, kita juga tidak tahu kapan perekonomian ini akan kembali pulih. Namun kita tahu, saya tahu, bahwa yang bisa dilakukan adalah terus melangkah kedepan dan dan bahwa setiap tindakan kecil seperti sebuah chat ; sebuah panggilan telp bisa memiliki dampak yang luar biasa bagi orang lain di masa – masa seperti ini.

Zoom Call dengan teman – teman SD (April 2020)

Selamat berusia 28 tahun Michael Varian Sutanto. Tetap sehat, tetap waras, tetap mencoba mencari jalanmu sendiri. Suatu saat ketika pintu tertutup, pintu yang lain akan terbuka untukmu.

“Rise and rise again, until the lambs become the lions”

Robin Hood

30 Days Writing Challenge – Day 2 | Share something you struggle with

I believe everyone has their own struggle in this life. And so do i. I think for now, i’m struggling to find a job. It has been fifteen months since i left my full time job as Trainer at Erajaya and has been seven month since i finished my internship at Apple Developer Academy @ BINUS.

Cast a side the pandemic that currently happening, I even don’t know where i will be? Will i got my dream job at one of Public Accountant where i applied as Junior Consultant ? Or will i be back to the training field? Honestly, I don’t know.

Since i joined the academy, I’m struggling to had my confidence back. Suddenly thrown into the coding world really create a deep wound in my heart. It’s like asking a blind person to ride a car without assistant. One of the facilitator was really kind to ask me to change my path from Coder to Project Manager where i can utilize some of my skill and new knowledge that i gain during the project. I believe that i can do quite good as Project Manager. And that’s become my career goal after finished the academy.

Lanjutkan membaca “30 Days Writing Challenge – Day 2 | Share something you struggle with”
Andalan

30 Days Writing Challenge – Day 1 | 5 Places I want to visit

We all always have a place we want to visit, specially during this time of pandemic when we feel how’s life in the containment like a person in jail. Some people want to visit a beach, some people want to visit a mountains, the others want to go abroad. Wherever is it, there will always a place that hold something special so we want to visit that place. And here are 5 places that i want to visit (at least once) in my life.

1. Lake Toba, North Sumatra, Indonesia

Toba Lake as seen from Samosir Island

The first place I want to visit is Lake Toba on North Sumatra, Indonesia. This place is said to be the largest natural lake that have been created due to super-volcano eruption. There is also a myth about Lake Toba that i had read since i was a child. All of that and the beautiful scenery there have become a great invitation for me to visit Lake Toba.

Lanjutkan membaca “30 Days Writing Challenge – Day 1 | 5 Places I want to visit”